SEKADAU, Aktual86.my.id — Warga Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, dibuat resah. Air Sungai Nanga Gonis yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat tiba-tiba tampak menghitam. Sejumlah ikan ditemukan mati dan membusuk.
Tak hanya itu, sejumlah warga juga mengeluhkan gatal-gatal pada kulit. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan besar di tengah masyarakat: apa yang menyebabkan air Sungai Nanga Gonis berubah hitam dan ikan-ikan mati?
Warga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan limbah aktivitas pabrik kelapa sawit PT Makmur Prima Lestari (MPL). Namun, dugaan itu masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lapangan dan uji laboratorium oleh instansi berwenang.

Air Sungai Berubah Hitam, Ikan Mati Berserakan
Kondisi Sungai Nanga Gonis tersebut ditemukan pada Selasa (1/9/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan air sungai tampak berwarna hitam. Di beberapa titik, ikan mati terlihat berada di aliran sungai, bahkan sebagian sudah dalam kondisi membusuk.
Situasi ini membuat warga khawatir, terlebih Sungai Nanga Gonis diketahui terhubung hingga ke Sungai Kapuas.
Selama ini, sungai menjadi bagian penting kehidupan masyarakat, termasuk untuk aktivitas sehari-hari dan mencari ikan.
Warga khawatir perubahan kondisi air tersebut tidak hanya berdampak terhadap ekosistem sungai, tetapi juga terhadap kehidupan masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai.
Air Bersih Sulit, Warga Harus Beli Air Galon
Persoalan semakin terasa ketika musim kemarau.
Warga mengaku kesulitan memperoleh air bersih. Untuk mandi, sebagian masyarakat memilih menggunakan Sungai Kapuas. Sementara kebutuhan air untuk konsumsi harus dipenuhi dengan membeli air galon.
“Kami minta pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah, bisa menelusuri dan menindak tegas sumber yang melakukan pencemaran,” kata warga, Leo Indra, saat ditemui di lokasi.
Menurut Leo, masyarakat selama ini memanfaatkan sungai untuk berbagai kebutuhan dan mencari ikan.
“Kami berharap pemerintah segera turun dan memeriksa kondisi sungai ini. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban,” ujarnya.
Warga Mengeluh Gatal-Gatal
Kekhawatiran warga semakin meningkat setelah sejumlah masyarakat mengaku mengalami keluhan pada kulit.
Sari Santika (13), pelajar kelas II SMP, mengaku mengalami gatal-gatal hingga kulitnya terkupas.
Ia mengatakan telah menjalani pengobatan, namun keluhan tersebut masih dirasakan.
“Kulit saya gatal-gatal dan terkupas. Sudah berobat tapi masih gatal,” ujar Sari.
Keluhan serupa disampaikan Sadiah. Ia mengatakan anaknya mengalami gatal-gatal pada bagian badan dan tangan sejak sekitar satu hingga dua bulan terakhir.
“Kami mandi memang di Sungai Kapuas, tapi terhubung juga Sungai Nanga Gonis yang di hulu diduga tercemar limbah,” katanya.
Namun, keluhan kesehatan warga tersebut belum dapat dipastikan disebabkan oleh kondisi Sungai Nanga Gonis. Kepastian mengenai penyebabnya membutuhkan pemeriksaan medis serta pengujian kualitas air.
Warga Desak Pemerintah Ambil Sampel Air
Warga berharap persoalan ini segera ditangani secara serius.
Mereka meminta pemerintah dan instansi terkait turun langsung mengambil sampel air Sungai Nanga Gonis untuk diuji di laboratorium.
Selain itu, sumber perubahan warna air dan kematian ikan juga diminta segera ditelusuri secara menyeluruh.
Warga menilai hasil uji laboratorium penting untuk menjawab keresahan masyarakat sekaligus memastikan apakah benar telah terjadi pencemaran lingkungan.
Jika nantinya terbukti terdapat pencemaran dan ditemukan pihak yang bertanggung jawab, warga berharap tindakan tegas diberikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
PT MPL Masih Disorot
Dugaan keterkaitan aktivitas PT Makmur Prima Lestari (MPL) dengan kondisi Sungai Nanga Gonis menjadi perhatian warga.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada hasil uji laboratorium yang dapat memastikan sumber pencemaran maupun keterkaitannya dengan aktivitas perusahaan.
Karena itu, pemeriksaan resmi menjadi penting agar persoalan tidak berhenti sebagai dugaan dan masyarakat memperoleh kepastian mengenai kondisi Sungai Nanga Gonis.
Warga kini menunggu langkah pemerintah dan instansi terkait untuk memastikan apa sebenarnya yang membuat air sungai menghitam, ikan mati, dan sejumlah warga mengeluhkan gatal-gatal.
TimRed








