Kubu Raya, aktual86.my.id – Jangan menilai kualitas pendidikan hanya dari megahnya bangunan. Pesan itu tergambar dari perjalanan MI Hidayatussibyan Parit Kapitan, Desa Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya.
Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, madrasah yang didirikan KH. Abd. Hakim pada 1979 tersebut mampu melahirkan siswa berprestasi hingga tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Kisah itu menjadi bukti bahwa gedung sederhana bukan alasan untuk melahirkan prestasi yang sederhana.
Salah satu prestasi membanggakan datang dari dua siswi MI Hidayatussibyan, yakni Cici Pratiwi dan Syahro, dalam kompetisi sains terintegrasi tingkat Kabupaten Kubu Raya pada 10 Juli 2023.
Cici Pratiwi berhasil meraih Juara I Matematika Terintegrasi, sedangkan Syahro menorehkan prestasi di bidang IPA Terintegrasi tingkat Kabupaten Kubu Raya.

Prestasi tersebut juga mendapat piagam penghargaan dari Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia.
Namun, perjalanan Cici tidak berhenti di tingkat kabupaten.
Ia kembali mengukir prestasi dengan berhasil meraih Juara III Sains Matematika tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas pendidikan tidak selalu menjadi penghalang bagi siswa untuk berprestasi.
Gedungnya sederhana, fasilitasnya terbatas, tetapi keberanian untuk bermimpi dan semangat untuk berprestasi tidak pernah terbatas.
Apresiasi untuk Guru Pembimbing
Ketua Yayasan MI Hidayatussibyan, Nurjali, S.Pd.I., memberikan apresiasi kepada Sarwono, S.Pd.I., selaku guru pembimbing yang dinilai telaten, sabar, dan konsisten dalam mendampingi para siswa.
Menurut Nurjali, prestasi yang diraih para siswa tidak datang secara instan. Di baliknya terdapat kerja keras peserta didik, ketekunan guru, serta proses panjang dalam mengasah kemampuan.
“Kami sangat berterima kasih kepada guru pembimbing Sarwono, S.Pd.I., yang sangat telaten membimbing siswa. Walaupun sekolah kami seperti dalam film Laskar Pelangi, semangat kami tidak pernah padam untuk mencetak generasi yang berprestasi,” ujar Nurjali.
Bagi pihak yayasan, prestasi Cici bukan sekadar piala ataupun piagam penghargaan. Lebih dari itu, capaian tersebut menjadi bukti bahwa siswa yang belajar di sekolah dengan fasilitas sederhana juga mampu berdiri sejajar dan bersaing di tingkat provinsi.
Keterbatasan Sarana Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Di balik kebanggaan atas prestasi para siswa, pihak yayasan mengakui masih terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian, terutama terkait keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.
Yayasan berharap pemerintah tidak hanya melihat prestasi yang berhasil diraih, tetapi juga memperhatikan kondisi madrasah tempat para guru dan siswa menjalani proses pendidikan setiap hari.
Nurjali berharap dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui peningkatan fasilitas pendidikan agar proses belajar mengajar dapat berjalan lebih optimal.
“Kami hanya berharap kepada pemerintah agar sekolah kami lebih diperhatikan. Kami memang memiliki gedung yang sederhana, tetapi kami memiliki semangat yang besar untuk mencetak siswa-siswi luar biasa,” harapnya.
Dari Keterbatasan Lahir Prestasi
Kisah MI Hidayatussibyan Parit Kapitan memberikan pesan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh megahnya gedung maupun lengkapnya fasilitas.
Dari ruang belajar yang sederhana, lahir mimpi besar. Dari guru yang tekun, lahir prestasi. Dan dari keterbatasan, Cici Pratiwi mampu membawa nama MI Hidayatussibyan Kubu Raya hingga meraih Juara III Sains Matematika tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Gedung boleh sederhana. Fasilitas boleh terbatas. Tetapi prestasi tidak boleh dibatasi.
Sumber: Nurjali, S.Pd.I., Ketua Yayasan MI Hidayatussibyan








