Perianto, Anak Desa yang Pergi di Tengah Kibaran Merah Putih

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:44

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MEMPAWAH, aktual86.my.id — Di balik semarak kibaran Merah Putih menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tersimpan kisah duka yang menyayat hati dari pelosok Kabupaten Mempawah.

Perianto, seorang anak muda asal Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, harus kehilangan nyawanya setelah mengalami kecelakaan saat bergotong royong memasang bendera dan umbul-umbul Merah Putih.

Kepergiannya terjadi ketika masyarakat tengah sibuk menghiasi jalan, lingkungan dan berbagai sudut desa dengan nuansa merah putih. Bagi keluarga dan masyarakat yang mengenalnya, Perianto bukan sekadar bagian dari kegiatan menyambut kemerdekaan. Ia adalah anak desa yang ikut mengambil peran agar suasana kemerdekaan terasa semarak.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu, 16 Agustus 2026. Saat itu, Perianto bersama sejumlah rekannya bergotong royong memasang ratusan bendera dan umbul-umbul di sejumlah titik, termasuk kawasan jalan dan pasar desa.

Puluhan bendera dan umbul-umbul yang belum terpasang dibawa menggunakan sebuah mobil pikap. Sebagian bendera telah diikat pada batang bambu dan diangkut bersama perlengkapan lainnya.

Dalam perjalanan, salah satu bendera yang dibawa diduga terlepas. Perianto kemudian berusaha meraih atau menahannya. Namun, upaya tersebut justru berujung petaka. Ia terjatuh dari kendaraan yang ditumpanginya.

Perianto segera dilarikan ke RS Menjalin, Kabupaten Landak, untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, luka yang dialaminya tergolong serius, termasuk cedera pada bagian kepala.

Karena membutuhkan penanganan dan fasilitas medis yang lebih memadai, Perianto kemudian dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Pontianak.

Berbagai upaya medis dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Ia bahkan harus menjalani operasi pada bagian kepala. Keluarga pun berupaya memenuhi kebutuhan biaya pengobatan yang disebut mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, perjuangan itu akhirnya harus berakhir dengan duka.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, Perianto mengembuskan napas terakhir.

Ironisnya, kepergian tersebut terjadi bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, saat Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membacakan teks Proklamasi dalam upacara kenegaraan.

Ketika seluruh negeri bersukacita merayakan kemerdekaan dan Merah Putih berkibar di berbagai penjuru, keluarga Perianto justru harus menghadapi kehilangan yang begitu dalam.

Merah Putih berkibar di luar rumah. Tangis keluarga pecah di rumah duka.

Perianto rencananya dimakamkan di tanah kelahirannya, Desa Pak Utan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, pada Selasa, 18 Agustus 2026, di pemakaman umum setempat.

Di Balik Kibaran Merah Putih, Ada Kisah Pengorbanan

Perianto mungkin bukan nama yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Ia bukan pula sosok yang dikenal luas di panggung nasional.

Namun, di mata keluarga dan masyarakatnya, ia meninggalkan sebuah kisah yang tidak mudah dilupakan.

Ia pergi ketika sedang melakukan sesuatu yang sederhana: membantu memasang bendera dan umbul-umbul untuk menyambut hari kemerdekaan.

Bagi sebagian orang, bendera mungkin hanya terlihat sebagai kain yang berkibar di pinggir jalan. Namun bagi Perianto dan masyarakat yang bergotong royong memasangnya, Merah Putih adalah simbol kebanggaan dan identitas bangsa yang layak dihormati.

Ironisnya, semangat untuk ikut menyemarakkan kemerdekaan justru mengantarkan Perianto pada peristiwa tragis yang merenggut nyawanya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, keselamatan manusia tetap harus menjadi perhatian utama. Setiap kegiatan masyarakat, termasuk pemasangan bendera dan umbul-umbul, harus dilakukan dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan.

Sebab, tidak boleh ada lagi nyawa yang menjadi taruhan dalam sebuah kegiatan yang sejatinya bertujuan merayakan kemerdekaan.

Merah Putih akhirnya tetap berkibar. Namun, di balik kibaran itu, ada air mata sebuah keluarga yang kehilangan anaknya.

Selamat jalan, Perianto.

Semoga segala kebaikan dan pengabdianmu dikenang oleh keluarga, sahabat, serta masyarakat Desa Pak Utan dan sekitarnya.

Merah Putih tetap berkibar. Namamu akan menjadi bagian dari kisah seorang anak desa yang pergi ketika sedang menunjukkan kecintaannya kepada tanah air.

Pewarta : Lep

Berita Terkait

Musda XI Golkar Sanggau Memanas, Fransiskus Taufik Muncul! Kini Tiga Kandidat Berebut Kursi Ketua
Kapolda Kalbar Sambut Kunjungan Presiden Prabowo dan Kapolri untuk Tinjau Penanganan Karhutla di Kalbar
Kades Baung Sengatap Desak Pemerintah Buka Data: Plasma PT SNIP dan Legalitas PT BPJR Harus Jelas
Dishub Sanggau Beri Penjelasan Soal Pita Penggaduh di Simpang RSUD M.Th. Djaman
Festival Rakyat Sanggau 2026 Resmi Dibuka, UMKM dan Potensi Lokal Jadi Sorotan
Kades Balai Karangan Sudah Minta Maaf, Kades Bungkang Kapan Buka Suara? Warga Menunggu
Emas Hampir 1 Kg Raib, 4 Orang Jadi Tersangka! Polisi Bongkar Dugaan Perampasan di Sekadau
seKalbar.News Resmi Mulai Beroperasi, Hadirkan Media Digital Baru untuk Kalimantan Barat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:04

Musda XI Golkar Sanggau Memanas, Fransiskus Taufik Muncul! Kini Tiga Kandidat Berebut Kursi Ketua

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:41

Kapolda Kalbar Sambut Kunjungan Presiden Prabowo dan Kapolri untuk Tinjau Penanganan Karhutla di Kalbar

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:27

Kades Baung Sengatap Desak Pemerintah Buka Data: Plasma PT SNIP dan Legalitas PT BPJR Harus Jelas

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:06

Dishub Sanggau Beri Penjelasan Soal Pita Penggaduh di Simpang RSUD M.Th. Djaman

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:24

Festival Rakyat Sanggau 2026 Resmi Dibuka, UMKM dan Potensi Lokal Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Sorry Ye,,,,,