Pagi untuk Umum, Malam Diduga untuk Pelangsir — Harga Disebut Rp13.000/Liter, Kendaraan Diduga Berbahan Pertalite Ikut Antre Solar
SINTANG, Aktual86.my.id — Dugaan penyimpangan distribusi Biosolar bersubsidi kembali mencuat. Kali ini sorotan mengarah ke SPBU 64.786.20 Jerora, Kabupaten Sintang, yang diduga melayani pembelian solar subsidi untuk kepentingan pelangsiran dan kemudian diperjualbelikan kembali dengan harga mencapai Rp13.000 per liter.
Informasi tersebut diperkuat keterangan salah seorang warga sekitar SPBU. Menurutnya, terdapat pola pengisian berbeda antara pagi dan malam hari.
“Kalau pagi hari mengisi untuk umum, kalau malam hari mengisi untuk pelangsir,” ungkap warga.
MOBIL DIDUGA PENGGUNA PERTALITE IKUT ANTRE SOLAR
Yang semakin menjadi sorotan, terdapat kendaraan yang diduga biasa menggunakan Pertalite, namun terlihat ikut mengantre untuk mendapatkan Biosolar subsidi.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius. Bagaimana kendaraan yang diduga menggunakan Pertalite bisa memperoleh solar subsidi?
Jika pembelian dilakukan melalui sistem barcode, data transaksi kendaraan tersebut semestinya dapat ditelusuri. Bahkan muncul dugaan kendaraan tersebut telah dimodifikasi menggunakan tangki tambahan atau yang disebut “tangki siluman” untuk menampung solar.
Namun dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan fisik kendaraan dan pencocokan dengan data transaksi.
PERTAMINA DAN APARAT DIMINTA PERIKSA
Dugaan ini tidak boleh berhenti sebagai isu masyarakat. Pertamina dan aparat penegak hukum diminta turun langsung memeriksa SPBU 64.786.20 Jerora.
CCTV, data barcode, nomor polisi kendaraan, frekuensi pengisian, volume pembelian, hingga aktivitas pengisian pada malam hari perlu dicocokkan.
Jika ditemukan pengisian tidak wajar, kendaraan tidak sesuai peruntukan, tangki modifikasi, atau solar subsidi yang dijual kembali kepada pelangsir, maka harus ada tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti terlibat.
Redaksi menegaskan, informasi ini masih berupa dugaan dan memerlukan klarifikasi dari pengelola SPBU, Pertamina serta instansi berwenang.
Jangan sampai solar subsidi yang seharusnya untuk masyarakat justru berubah menjadi ladang bisnis para spekulan.
Tim Investigasi








